Laman

Minggu, 20 September 2015

Transportasi dari Bandara Ahmad Yani Semarang ke Kota Salatiga

Saya termasuk seorang yang beruntung karena mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di luar negeri, tepatnya di negara Jerman. Saking nyamannya dengan transportasi di Jerman, saya iseng mencoba menggunakan angkutan umum di Indonesia untuk pulang kampung ke Kota Salatiga tahun 2014 silam.

Inilah caranya (versi pendek):
- Naik BRT dari luar bandara, transit di Pemuda, naik BRT arah Ungaran, turun di Sukun
- Naik Bus Semarang - Salatiga (biasanya Semarang - Solo), turun di Salatiga di spot-spot yang akan saya sebutkan di bawah
Lama perjalanan total sekitar 2 - 2,5 jam.

Inilah kisah perjalananku (versi panjang):
Sesampai di Bandara Ahmad Yani Semarang, saya mencari bus rapid transit (BRT) Kota Semarang yang katanya salah satu koridornya sudah menjangkau bandara. Betul saja, setelah berjalan kurang lebih 200m keluar bandara, saya menemukan halte BRT tersebut. Setelah menunggu di halte selama beberapa waktu, akhirnya bus yang saya tunggu-tunggu datang juga. Busnya sepi, entah mungkin karena belum banyak pengguna BRT koridor yang menjangkau bandara ini atau karena hari itu masih siang. Oleh kondektur saya pun diberi petunjuk untuk membayar 2 tiket mengingat saya membawa koper besar (ya iyalah namanya juga dari bandara, apalagi dalam rangka pulang kampung..). Dalam hati sebenarnya saya merasa peraturan ini lucu, namanya juga dari bandara, ya wajarlah ya kalau orang bawa koper masuk bus. Akan tetapi, ya saya hanya menyimpannya dalam hati karena harga tiket BRT toh relatif terjangkau, yaitu sebesar Rp 3.500,00 sekali jalan dan saya tidak perlu membayar lagi untuk pindah koridor.

Dari bandara bus ini bergerak menuju halte transit di jalan Pemuda. Di sana saya perlu turun, oper pindah koridor yang menuju luar kota Semarang (Ungaran). Dari daerah yang bernama Sukun baru saya bisa naik bus luar kota Semarang - Salatiga. Dugaan saya benar, ternyata sudah banyak pengguna BRT walaupun itu di siang hari, mengingat harga tiketnya yang relatif terjangkau tadi. Sayangnya manajemen antre di halte transit itu belum diatur dengan baik. Di pintu keberangkatan BRT di halte tersebut tidak dipisahkan antrean untuk penumpang koridor satu dengan lainnya. Hal ini mengakibatkan penumpang ndesel-ndeselan: penumpang yang sudah mengantre di depan tetap mau mempertahankan posisinya di depan walaupun bus yang mau lewat ini bukan bus yang ingin ia naiki.

Setelah uyek-uyekan akhirnya saya berhasil naik juga ke BRT koridor yang saya kehendaki. Busnya penuh, karena koridor ini rasa-rasanya adalah salah satu koridor favorit karena menghubungkan antara Terminal Terboyo Kota Semarang dengan Terminal Sisemut di Ungaran. Dengan harga yang hanya Rp 3.500,00, tidak usah pindah koridor pun naik BRT koridor ini sepertinya sudah balik modal karena rutenya yang cukup jauh. Saya tetap percaya diri aja bawa-bawa koper besar masuk bus, toh saya juga sudah membeli 2 tiket :)

Hal yang cukup membuat deg-degan ketika naik BRT koridor ini adalah jalan menanjak yang harus ditempuh untuk menuju Semarang atas. Saya baru menyadari bahwa Kota Semarang ini mempunyai tantangan geografis yang lumayan sehingga menimbulkan istilah Semarang atas dan Semarang bawah. Seperti kendaraan-kendaraan lainnya, BRT ini pun bergerak dengan lambat, apalagi ketika ketika muatannya penuh seperti yang terjadi pada siang hari itu. Barulah saya tergerak untuk menghubungi pihak manajemen BRT supaya armada BRT ditambah secara signifikan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di jalan tanjakan ini. Kualitas kenyamanan naik BRT pun menjadi berkurang ketika bus dengan ukuran sedang ini penuh sesak sampai tempat untuk berdiri saja sudah penuh. Pertanyaan selanjutnya kan jadi: "Kalau ada orang yang mau turun di suatu halte bagaimana, masak ya udah desel-deselan di halte, di dalam BRT juga harus kayak gitu lagi"

Akhirnya saya sampai juga di halte Sukun, saya turun kemudian saya oper ke bus luar kota Semarang - Salatiga yang kebetulan dilayani oleh Safari Lux. Harga tarifnya Rp 12.000,00 dan alhamdulilah cukup nyaman. Saya tidak perlu berdesak-desakan lagi dan mendapatkan tempat duduk. Bus ini juga relatif cepat, jarak Sukun - Salatiga biasa ditempuh dalam waktu 1 jam. Bus ini juga sangat "ramah penumpang", sesampai di Salatiga penumpang bisa diturunkan di mana saja di sepanjang rute yang dilewati oleh bus ini. Walau begitu, titik-titik penaikan dan penurunan penumpang di Salatiga biasanya:
- di Kauman: kemudian oper ke angkota Salatiga nomor 02 untuk menuju terminal angkota Tamansari.
- di Jetis: akses ke Jalan Kartini atau Imam Bonjol
- di Pasar Sapi: akses ke Jalan Ahmad Yani (Kota) atau Jalan Hasanudin (arah Kopeng)
- di ABC: akses ke Jalan Jend. Sud (Kota), oper ke angkota Salatiga nomor 05 untuk menuju terminal angkota Tamansari via Kesambi (Kota) atau nomor 06 untuk langsung menuju terminal.
- di Terminal Tingkir: akses ke bus angkutan desa, bus dalam provinsi, maupun antar provinsi.

Tiket BRT dan Tiket Bus Semarang - Salatiga

Puji Tuhan, setelah melalui oper-oper yang cukup banyak akhirnya saya bisa juga survive sampai di rumah di Kota Salatiga dengan mengandalkan angkutan-angkutan umum. Masih banyak PR yang harus dikerjakan pihak pengelola angkutan umum, sebagai contoh seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Akan tetapi, melalui tulisan ini saya juga ingin memberikan apresiasi kepada pihak pengelola yang sudah menjawab keisengan saya dengan cukup memuaskan dan mengantarkan saya pulang kampung dengan selamat ke Kota Salatiga. Sudah bagus, tetapi harus terus ditingkatkan!!

Untuk pembaca setia, saya rangkumkan lagi cara transportasi dari Bandara Semarang ke Kota Salatiga menggunakan angkutan umum:
- Naik BRT dari luar bandara, transit di Pemuda, naik BRT arah Ungaran, turun di Sukun
- Naik Bus Semarang - Salatiga (biasanya Semarang - Solo), turun di Salatiga di spot-spot yang sudah saya sebutkan di atas.
Lama perjalanan total sekitar 2 - 2,5 jam.

Jumat, 11 September 2015

Apresiasi untuk Kantor Kelurahan Salatiga

Beberapa hari yang lalu saya menguruskan pembuatan KTP ibu saya. Prosedur pembuatan KTP di Indonesia ternyata cukup berbelit-belit, karena harus melalui ketua RT, ketua RW, kantor kelurahan, hingga akhirnya kantor kecamatan. Saya melihat prosedur ini tidak sepenuhnya negatif karena semangat kekeluargaan dan kepedulian di kampung tetap dipertahankan, tidak seperti halnya yang terjadi dalam kehidupan pertetanggaan di kota saat ini.

Salah satu syarat dalam pembuatan KTP ibu saya ini ternyata adalah surat pernyataan bahwa KTP-nya hilang. Formulir surat pernyataan ini tidak diberikan oleh ketua RT maupun RW, sehingga sesampai di kantor kelurahan, saya diminta kembali lagi ke ketua RT dan RW untuk meminta tanda tangan dan cap beliau.

Menariknya, Kelurahan Salatiga di Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga mau menandatangani surat pernyataan itu terlebih dahulu, sehingga setelah mendapatkan tanda tangan dan cap dari ketua RT dan RW saya tidak perlu kembali ke kantor kelurahan. Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif dari Kantor Kelurahan Salatiga. Sekalipun posisinya lebih tinggi, ia mau menandatangani surat pernyataan ini untuk mempermudah birokrasi (saya tidak perlu kembali ke kantor kelurahan lagi).

Dari kebijakan orang ini, saya bisa merasakan kerinduan dan semangat untuk mempermudah birokrasi di Indonesia. Saya semakin yakin, bahwa saya tidak sendirian bermimpi tentang Indonesia. Terima kasih, Sekreatris Kelurahan Ibu Endang Budiarti dan Kantor Kelurahan Salatiga!
Ada kesalahan di dalam gadget ini